Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1431 H / 2010 M Pemkab Tulungagung kembali menggelar Pasar Murah yang diikuti sebanyak 65 stand. Kegiatan ini rencananya dilaksanakan selama 10 hari yaitu mulai Kamis, 26 Agustus 2010 hingga 4 September 2010.
Pasar Murah yang bertujuan memenuhi kebutuhan pokok warga masyarakat dengan harga murah menjelang Hari Raya Idul Fitri, dibuka oleh Bupati Tulungagung Ir. Heru Tjahjono, MM dengan ditandai pengguntingan pita oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tulungagung Ibu Garjati Heru Tjahjono.
Menurut Ketua panitia penyelenggara kegiatan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Tulungagung, Hj. Setyowati, MM, kegiatan ini dibuka mulai jam 8 pagi hingga pukul 9 malam dengan tempat di halaman Kantor Bupati Tulungagung.
Sementara Peserta Pasar Murah adalah Disperindag, Lingkup Dinas Pertanian, Dinas Koperasi UMKM dan Pasar PG Mojo Panggung, Dolog Sub Divre 10 Tulungagung, Organisasi Wanita, PKK, Dharma Wanita IWAPI, LSM, maupun para pelaku usaha seperti swalayan, konveksi, dan Industri kerajinan rumah tangga.
Setiyowati juga menginformasikan bahwa di samping menggelar kegiatan pasar murah para peserta pasar murah ini juga melakukan kegiatan sosial yaitu menyisihkan sebagian keuntungannya untuk disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan yang kepengurusannya dari peserta pasar murah sendiri.
Bupati Tulungagung Ir. Heru Tjahjono, MM dalam sambutanya mengucapkan terima kasih kepada para peserta pasar murah yang mau menyediakan bahan pokok dengan harga murah dan terjangkau. (Nug/Humas)
Sumber: tulungagung.go.id
Pasar Murah Jelang Lebaran
Tulungagung Sebagai Kabupaten Penggerak Koperasi

Kurang lebih sepuluh ribu orang mengikuti jalan sehat di alun-alun Tulungagung dalam rangkaian kegiatan memperingati Hari Koperasi ke-63 Tingkat Kabupaten Tulungagung, Sabtu pagi (31/7/2010). Peserta jalan sehat meliputi Kepala SKPD lingkup Pemkab Tulungagung, pengurus dan anggota Koperasi Wanita, Gerakan Koperasi, siswa-siswi SD, SMP, SMU sederajat, para guru, PNS, dan masyarakat umum. Acara ini di berangkatkan oleh Wakil Bupati Tulungagung Moch. Athiyah, SH.
Ketua Umum Harkop ke-63 Kabupaten Tulungagung, Nyadin, MAP, dalam laporannya menjelaskan, tahun 2010 Tulungagung mendapatkan penghargaan sebagai Kabupaten Penggerak Koperasi. Ada 44 kabupaten se-Indonesia yang mendapat penghargaan Kabupaten Penggerak Koperasi. Sedangkan Kabupaten Tulungagung mendapatkan predikat Paramadana Madya Nugraha Koperasi. Lebih lanjut Nyadin menyatakan keberhasilan Tulungagung di bidang koperasi berkat kepedulian, keberpihakan dan kinerja Bupati selama 3 tahun terakhir menunjukan peningkatan yang signifikan dalam pemberdayaan Koperasi dan UMKM
Bupati Tulungagung dalam hal ini diwakili oleh Wakil Bupati Moch. Athiyah, SH dalam sambutan singkatnya mengatakan, dengan jalan sehat akan membuat pengurus dan anggota koperasi menjadi sehat, koperasi sehat, ekonomi sehat dan warga Tulungagung semakin sehat. Dan akhirnya Athiyah mengangkat panji pemberangkatan sebagai tanda jalan sehat dimulai. Pada kesempatan tersebut Wakil Bupati bersama ketua panitia dan seluruh undangan mengikuti jalan sehat hingga akhir finish. (Udin/Humas)
Sumber: tulungagung.go.id
Program Kegiatan Pemberdayaan Kelompok Perempuan Melalui Koperasi Wanita
Sesuai surat Gubernur Jawa Timur Nomor: 518/6971/103.1/2009 tanggal 17 September 2009 perihal Program Pembentukan LKM melalui Koperasi Wanita, di mana Kabupaten Tulungagung mendapatkan alokasi Pembentukan Koperasi Wanita sebanyak 119 Koperasi Wanita. Kepada masing-masing Koperasi Wanita diberikan bantuan modal kerja sebesar Rp. 25.000.000,00.
Kunjungan anggota komisi III DPRD Kabupaten Tulungagung ke Koperasi Sri LestariKaum Perempuan merupakan salah satu segmen penduduk dalam pembangunan, yang memiliki jumlah seimbang dengan jumlah laki-laki. Hal tersebut merupakan potensi/modal besar yang dimiliki perempuan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Perempuan sehingga posisinya dapat sejajar dengan laki-laki.
Kenyataannya proporsi kaum perempuan yang aktif masih tertinggal dibanding laki-laki terutama dalam tingkat pengambil keputusan dan partisipasi perempuan di bidang ekonomi, hal tersebut karena kultur dan pemahaman yang kurang mendukung masih dipandang sebelah mata, tidak dinilai penting kegiatan ekonomi atau usaha yang dilakukan perempuan karena dinilai hanya sebagai menambah pendapatan keluarga saja atau usaha sampingan.
Berbagai permasalahan yang dihadapi kaum perempuan, antara lain sulitnya akses untuk memperoleh pendanaan/modal kerja/kredit, sulitnya pendaftaran usaha, kurangnya jaminan keuangan, terbatasnya ruang gerak, tehnologi, informasi pasar serta SDM perempuan, sering dijumpai kaum perempuan yang melakukan kegiatan usaha warung atau mlijo yang terjerat bank titil karena memang tidak mampu, sehingga karena tiap hari harus membayar bunga sangat tinggi maka kerja kerasnya tiap hari seolah tidak membawa hasil.
Kaum perempuan sebagai pemain sentral dalam menjamin kesejahteraan keluarga, sepatutnya diberikan kesempatan ekonomi untuk menjamin ketahanan dasar keluarga melalui peningkatan akses, termasuk akses sumber daya ekonomi.
Dapat dikatakan bahwa peningkatan ekonomi keluarga melalui peran perempuan dapat tercipta manakala perempuan berkelompok bersama sesama kaumnya untuk melakukan suatu kegiatan usaha. Salah satu pilihan wadah usaha bagi Kelompok Perempuan adalah melalui Koperasi Wanita.
Pemberdayaan kelompok perempuan melalui Koperasi Wanita bertujuan:
Sasaran Program Kegiatan adalah Kelompok Perempuan, 1 desa 1 Kelompok Perempuan, di mana masing-masing Kelompok Perempuan setelah mendapatkan bantuan modal Kerja sebesar Rp. 25.000.000,00 statusnya ditingkatkan menjadi Koperasi Wanita yang berbadan hukum.
Staff Dinkop UMKM dan Pasar memberikan penyuluhan kepada para pengurus KopwanKoperasi Wanita dibentuk dari Kelompok Perempuan dengan anggota minimal 20 orang anggota yang berdomisili di wilayah desa yang bersangkutan di mana setiap desa/kelurahan terbentuk 1 Koperasi Wanita. Pembentukan Koperasi Wanita diwajibkan hasil rekomendasi dari Kepala Desa/Kepala Kelurahan di wilayahnya dan istri Kepala Desa/Kepala Kelurahan harus terlibat secara aktif dalam program dimaksud.
Istri Kepala Desa/Kepala Kelurahan (ketua Tim Penggerak PKK desa/kelurahan) secara Exovisio sebagai pembina Koperasi Wanita. Para pendiri yang akan membentuk Koperasi Wanita wajib memahami pengertian, nilai, dan prinsip-prinsip koperasi. Para Pendiri tidak diwajibkan menyetor modal sendiri pada awal Pendirian Koperasi Wanita. Akta Pendirian Koperasi Wanita wajib dibuat oleh Notaris Pembuat Akta Koperasi. Selain itu Koperasi Wanita juga wajib memiliki kelengkapan Administrasi Organisasi dan pembukuan pokok.
Bantuan modal kerja kepada masing-masing Kelompok Perempuan/Koperasi Wanita sebesar Rp. 25.000.000,00 dilakukan dengan cara transfer secara langsung ke masing-masing rekening Kelompok Perempuan/Koperasi Wanita dari Kas Daerah dalam bentuk hibah. Selain itu, Koperasi Wanita juga akan mendapatkan bantuan, antara lain:
Dalam pelaksanaannya, Koperasi Wanita didampingi oleh tenaga pendamping dari PUSKOWANJATI Jawa Timur yang akan membimbing dan membina baik dalam hal manajeman kelembagaan maupun usahanya selama 4 bulan.
Pemanfaatan Bantuan Modal Kerja untuk Kelompok Perempuan/Koperasi Wanita adalah untuk kegiatan usaha Simpan Pinjam, sebagai modal bergulir; penunjang sarana usaha, seperti penyediaan alat tulis, kalkulator, lemari arsip dan lain-lain maksimal 5 % (Rp. 1.250.000,00) dari bantuan modal yang diterima; modal kerja bagi anggota Koperasi Wanita disesuaikan dengan kebutuhan riil usaha anggota dengan bunga yang berlaku pada Koperasi Wanita yang bersangkutan, dalam jangka waktu maksimal 1 tahun. Sebagai tambahan, bantuan permodalan dapat dipinjamkan kembali pada anggota Koperasi Wanita yang memenuhi kriteria untuk peningkatan pelayanan usaha pada anggotanya.
Kewajiban Koperasi Wanita yang harus dilaksanakan sebagai upaya pengendalian penggunaan bantuan permodalan adalah sebagai berikut:
Sumber: tulungagung.go.id
Strategi Memasarkan Produk
Pemasaran adalah strategi atau cara bagaimana melakukan berbagai aktifitas agar terjadi pertukaran (exchange) antara produsen dengan konsumen. Dalam hal pendidikan, pemasaran mengatur strategi dan cara agar konsumen mau mengeluarkan uang yang mereka miliki untuk menggunakan produk atau jasa perusahaan.
Untuk bisa memasarkan produk dengan baik, harus dimulai dari visi, misi, dan tujuan yang jelas perusahaan ingin diarahkan ke mana. Visi, misi dan tujuan ini biasanya harus dimulai dari manajemen, yang kemudian ditransfer kepada karyawan.
Selanjutnya, perusahaan juga harus menganalisis berbagai faktor eksternal yang mungkin berpengaruh dengan lembaganya. Faktor-faktor eksternal tersebut yang pertama adalah Lingkungan Makro. Lingkungan makro di sini terdiri dari sisi perkembangan penduduk dengan segala sifat dan karakternya. Faktor lain dari lingkungan makro adalah teknologi, di mana kita juga harus melihat berbagai perkembangan teknologi yang mungkin bisa diterapkan di perusahaan kita.
Faktor berikutnya dari lingkungan makro adalah aturan Pemerintah. Di Indonesia termasuk unik, karena aturan pemerintah sering berubah dengan perubahan menteri. Karena itu, antisipasi berbagai aturan ini diperlukan agar perusahaan bisa fleksible dalam mengadaptasi berbagai perubahan aturan.
Setelah lingkungan makro, lingkungan eksternal lain yang perlu diperhatikan adalah peta industri dan persaingan. Perusahaan perlu memetakan siapa pesaing-pesaing mereka, baik yang berpotensi untuk bersaing langsung maupun tidak langsung. Pemetaan kondisi ini akan menghasilkan kekuatan dan kelemahan pesaing kita, sekaligus melihat aspek mana yang bisa dijadikan sebagai keunggulan bersaing.
Setelah melihat kondisi persaingan, perusahaan perlu memahami konsumen atau pelanggan. Pemahaman tentang konsumen, nilai-nilai yang mereka anut, dan nilai tambah seperti apa yang diinginkan mereka akan sangat membantu perusahaan dalam mendisain produk dan jasa yang dibutuhkan.
Untuk bisa memberikan nilai tambah, perusahaan harus terlebih dahulu mengetahui selera dan kebutuhan konsumen secara baik. Biasanya dilakukan survey ataupun wawancara dengan calon-calon konsumen mengenai apa harapan dan keinginan mereka tentang perusahaan.
Perusahaan biasanya kesulitan untuk menentukan apakah perusahaannya diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah atas atau untuk menengah bawah. Perusahaan sejak awal harus menentukan lembaganya diarahkan untuk kelas mana.
Dengan menentukan target market yang dituju, perusahaan bisa memberikan satu nilai tambah yang menjadi pembeda dibandingkan dengan para pesaingnya. Nilai tambah inilah yang disebut sebagai differensiasi. Dengan differensiasi yang kuat, bisa menjadi senjata dalam menghadapi berbagai persaingan.
Setelah peta kondisi eksternal sudah didapatkan, perusahaan tinggal memikirkan kondisi internal strategi apa yang akan dilakukan untuk mengelola perusahaan. Pola pengelolaan strategi internal ini, dalam ilmu pemasaran sering disebut sebagai strategi 4 P yaitu mengelola produk, harga, saluran distribusi dan promosi (product, price, place of distrbution, promotion).
Produk-produk perusahaan bisa dibagi menjadi dua bagian; yaitu produk utama dan produk pendukung. Produk utama adalah kegiatan belajar mengajar dengan segala prosesnya. Karena bukan barang jadi, proses kegiatan belajar mengajar adalah produk utama yang melibatkan emosi dan perasaan dari peserta didik sebagai konsumen. Karena itu, agar produk utama ini baik harus diciptakan pengalaman belajar mengajar yang menyenangkan.
Perusahaan harus menentukan produk apa yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Survey kebutuhan pelanggan perlu dilakukan agar produk yang diberikan sesuai dengan pilihan mereka.
Setelah menentukan produk apa yang ingin ditawarkan, selanjutnya adalah menentukan berapa harga yang harus dibayar oleh konsumen. Prinsip utama dalam menentukan harga adalah menghitung keseluruhan biaya yang diperlukan. Dari situ, tinggal ditambahkan berapa persen laba yang ingin diperoleh untuk kepentingan pengembangan dan penghitungan berapa tahun akan balik modal.
Dalam hal distribusi, perlu juga dipikirkan bagaimana produk yang kita buat akan sampai kepada konsumen. Perlu dipikirkan apakah produk kita jual secara langsung atau dipercayakan kepada distributor dan agen untuk penyebarannya. Yang penting adalah bagaimana produk tersebut bisa sampai ke tangan konsumen.
Salah satu faktor yang penting dalam pemasaran sebagai P yang terakhir dari 4P yaitu promosi. Promosi adalah usaha-usaha sadar untuk melakukan sosialisasi, penerangan, dan pemberitahuan kepada masyarakat tentang berbagai informasi, yang biasanya mengenai berbagai produk yang ditawarkan. Aktivitas promosi melibatkan berbagai bentuk dan variasi yang sangat beragam. Tinggal bagaimana para pengelola melakukan berbagai promosi kreatif sesuai dengan kebutuhan dan anggaran promosi yang disediakan.
Bentuk promosi yang paling tradisional adalah iklan. Iklan adalah pemasangan informasi produk di berbagai media dan penerbitan mulai dari koran, majalah, tabloid, televisi, dan juga radio. Iklan memang efektif menjangkau khalayak yang luas, tetapi dari sisi biaya memang membutuhkan anggaran yang besar. Jika terasa bahwa biaya iklan di media massa cukup besar, bisa dicoba bentuk lain yaitu dengan brosur, leaflet, dan juga spanduk yang dipasang di sekitar wilayah di mana konsumen berada. Dengan demikian, informasi lengkap tetap bisa didapatkan oleh target konsumen kita.
Cara lain yang efektif adalah melalui promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) di mana satu orang memberikan penjelasan kepada orang lain karena merasa mendapatkan manfaat yang baik dari produk atau jasa yang digunakan. Promosi ini sangat efektif karena biasanya orang lebih percaya kepada apa yang dikatakan oleh saudara ataupun teman-teman yang sudah merasakan terlebih dahulu.
Pada akhirnya, aktifitas promosi apapun dalam perusahaan tidak bisa berjalan efektif jika secara internal tidak memperhatikan faktor kualitas sebuah perusahaan. Dengan kualitas produk yang baik, ditambahkan komunikasi yang mengena, maka aktifitas perusahaan bisa berjalan dengan baik.
Sumber : sentrakukm.com